: Apartemen Kata, cerita estafet manusia yang berlari di lajur masalah lain, tapi menyerah pada arus putaran eksistensi pribadinya.
satu detik, dua detik aku meresapi kehangatan teh yang menjalar hingga dada sebelum hantaman lain menyerang dari bawah. tergesa-gesa, aku berbalik, menjangkau wastafel dan HOEK!
Ziantine Larasati

Semburat cahaya masuk perlahan melalui celah gorden kamar. Aku membuka mata sedikit, melirik pada weker kecil di nakas sebelah tempat tidur. Jam 8. WHAT?! Jam 8?! aku tergeragap sendiri. Segera bangun dari tempat tidur dan melangkah menuju dapur. aku langsung terhenyak begitu mencapai ambang pintu. Masih ada tumpukan kardus disana-sini. beberapa furnitur bahkan masih memakai plastik. Aku terduduk lemas di lantai. menghela nafas dalam-dalam dan menyibak poni yang mulai menutupi mata.

Old habits die hard.

Akhirnya aku berdiri, kembali ke kamar dan membuka gorden jendela. Cahaya matahari Bandung menembus ke dalam kamar, membuatku menyipitkan mata. Silau.

Tanpa berpikir aku menuju ke ruang dapur. menjerang air di sebuah teko dan membalikkan badan pada ruang berantakan. Kardus coklat menggunung di sudut ruang, ada beberapa kardus coklat lagi yang terserak di lantai, setengah terbuka. Mataku lantas menjelajahi ruangan itu, ada tiga pintu berjejer meski yang satu agak menjorok ke dalam. Dua diantaranya adalah ruang tidur dan yang pintunya menjorok ke dalam itu kamar mandi. Tepat di depanku adalah sebuah ruang lapang, hanya terisi meja, beberapa kursi dan.. kardus-kardus itu. Aku menghela nafas. Ini akan menjadi hari yang panjang untuk membereskan semuanya.

Suara nguung yang akrab di telinga menyadarkanku. Aku mematikan kompor, mengambil mug putih di lemari dan tanganku yang satu lagi mengambil stoples berisi bubuk kopi. Hmm Kopi? lantas terngiang di telingaku wejangan perempuan itu “usahakan jangan minum kopi dan merokok ya” lagi-lagi aku mendesah. Tanganku kini mengambil teh celup di stoples yang satu lagi. Masukkan tiga sendok teh gula ke dalam gelas, isi air, celupkan teh, jangan terlalu kental, lalu aduk. Voila, jadilah teh manis panas ala chef Ziantine Larasati.

Aku tersenyum sendiri memandang teh yang baru aku buat. seakan-akan itu sebuah masterpiece agung. Lalu, dengan hati-hati aku menyeruput minuman manis itu. Hmm, teh hangat ternyata cukup nikmat untuk membuka hari. Satu detik, dua detik aku meresapi kehangatan teh yang menjalar hingga dada sebelum hantaman lain menyerang dari bawah. tergesa-gesa, aku berbalik, menjangkau wastafel dan HOEK!

selamat datang morning sickness.

Ziantine Larasati

dari hasil keringat saya. literally. keringat yang saya keluarkan di tempat tidur ini.
Julian Sastradinata

Lagi-lagi mimpi buruk. Keringat bercucuran dan jantung berdetak dengan sangat cepat. Saya miringkan badan untuk meraih jam digital di samping tempat tidur. Pukul 3 dini hari dan saya baru tertidur 2 jam. Bayangan masa lalu itu kembali menghantui ketenangan jiwa saya.

“Kamu gak apa-apa sayang?”

Saya kaget mendengar suara itu. Suara yang tidak pernah saya dengar sebelumnya. Sangat asing.. Ohhh, saya ingat sekarang. Dia adalah Daniel Siregar, perancang adi busana yang sedang naik daun di negri ini. Tadi malam saya menjadi model catwalk baju rancangannya di sebuah peragaan busana paling akbar di kota ini. Saya memang berprofesi sebagai model. Model murahan yang bisa ‘dinikmati’ 24 jam dengan bayaran selembar cek senilai 30 juta. Dan itu minimal. Saya pernah mendapatkan 3 kali lipat dari itu. Entah si Daniel jelek ini akan membayar saya berapa. Pria ngondek berperawakan sangat Batak. Aneh rasanya dengan muka garang seperti itu bisa sangat ‘melambai’. Senyum tipis.

“Kok kamu tersenyum? Tadi malem enak banget. Kamu memuaskan.”
..diam.. “Aku pengen kamu pergi dari sini sekarang.”
“Kenapa?”
“Aku bilang, PERGI! Jangan lupa tinggalkan ceknya di meja ruang TV.”

Perancang ngondek itu sepertinya ketakutan dan langsung terbirit-birit mengenakan bajunya lalu kabur. Entah dia tinggalkan ceknya atau tidak. Jika tidak, siap-siap saja besok dia sudah tinggal nama.

Saya tinggal di apartemen ini seorang diri. Dari hasil keringat saya. Literally. Keringat yang saya keluarkan di tempat tidur ini. Saya sudah selayaknya gigolo. Terserah saya mau dipanggil apa. Profesi model tidak akan mampu memenuhi gaya hidup konsumerisme saya. LV, Hermes, Gucci dan semua merek ternama dunia menghiasi kloset saya. Saya gila belanja dan senang kemewahan. Saya harus hidup dalam gemerincing koin emas dan bermandikan berlian. Saya tidak bodoh, saya sarjana kedokteran sebuah universitas berplat merah terbaik di kota ini.

Nama saya? Mereka biasa memanggil saya, boy toy.

Julian Sastradinata

 

seni selalu mencari bentuk dan aku berharap menjadi bagian dalam proses itu
— Langa Beng Otanga

“Uhuk! Uhuk! Aahhkkk!! Uuuhuukk uuhhuuukk!!”

Ah.. Lagi-lagi aku terbatuk-batuk. Aku memang keras kepala. Dokter bilang aku bronkitis, tapi tetap saja asap tembakau ini nikmat kuhirup. Tanpa filter pula. Bukankah yang tanpa filter selalu nikmat. Tinggal tancap! Hahaha… Lagipula ini cuma asap. Tidak padat dan seharusnya membelaiku dengan hangat di tengah malam yang dingin di apartemen ini.

Jujur, aku penat. Entah apa yang membuatku buntu dalam berkarya. Lukisan ini tidak jadi-jadi. Padahal cita-citaku menjadi pelukis tenar. Bercita rasa tinggi dan seksi. Mengapa fantasiku mati? Aku iri dengan Leonardo Dicaprio yang dengan asiknya menggurat kuasnya di kanvas, dengan Kate Winslet yang teronggok bugil di depannya, bersama tatapan mautnya. Tatapan yang mengingatkanku kepada Yuri. Dia yang entah dimana sekarang.

Mungkin aku buntu karena masih mencari jejak Yuri dalam kelam.

Yuri tidak mau mengikuti jalan hidupku yang menurutnya serampangan. Serabutan. “Unbestimmter!”, teriaknya padaku. Itu kata dalam bahasa Jerman yang artinya “tidak jelas”. Seni selalu mencari bentuk dan aku berharap menjadi bagian dalam proses itu, jelasku padanya. Dia menatapku lirih. Perlahan rautnya mengendur. Dia menangis dan pergi. Hujan waktu itu. Seperti di drama-drama televisi. Aku, entah kenapa, tidak mengejarnya. Racun. Bodoh!

“AAAAARRRGGGHHH!!” teriakku di tengah malam saat mengingat perpisahan itu. Para tetangga apartemenku mungkin dengar. Mungkin mereka marah karena terganggu saat sedang bercinta dengan pasangannya atau apalah. Terserah. Sesekali aku ingin berteriak. Aku juga manusia yang bisa resah dan marah.

Biasanya saat buntu begini aku akan membuka kulkas dan mengambil sebotol bir. Tapi aku tak semangat. Ingin sekali aku keluar dan menggedor pintu para tetangga dan mengajak mereka main kartu atau apalah. Namun kuingat, aku tidak pernah betul-betul bicara dengan mereka. Hanya kakek tua di apartemen ini yang biasa kusapa dengan senyum seadanya. Wajah bijaknya cukup meneduhkan. Dia pun tidak pernah bicara. Sedangkan si penjaga lobby, kerjanya hanya sms-an dan cekakak-cekikik di telepon. Tidak enak untuk diajak bercengkrama. Aku berani memastikan itu.

Daripada pusing, lebih baik aku onani. Lumayan kan buat ganti cat kuas. Biar lebih nyeni. “HAHAHAHAHAHAHAHA”

Langa Beng Otanga

Pukul 1 siang aku sudah mandi dan bersiap mencari makan. Ada yang berjalan dan berdetak cepat di dadaku. Setelah seminggu lebih aku mendekam di kamar dan menguras dompet dengan makanan delivery service, kini aku yang akan bergerak sendiri menuju makan siang. Mari taklukan dunia luar! eh! Aduh, hampir tersandung.

Debaran jantungku kembali mengencang. Musa memberikan paket manis di depan pintu kamar apartemenku! Tidak mungkin! Dia tidak pernah seromantis ini! Aku mencoba menangkis harapan sebesar bola basket yang mulai menyesakkan dada.

Ha-ha-ha. Ternyata memang tidak benar. Ini bukan Musa.

“Castangel paling enak di dunia ini tentunya tidak gratis, malam minggu nanti bila tak ada acara, makan malamlah di kamarku. sekadar membuktikan bahwa setidaknya ada lima kue kering lagi yang mungkin lebih enak dari castangelku,

salam hangat, Kamar 1502.”

Sebuah kejutan yang mengejutkan. Aku selalu berpikir bahwa hidup di apartemen akan menyenangkan karena semuanya individualistis. Namun setelah dua pekan ini, diam-diam aku merasa kesepian. Aku beranjak mengetuk pintu di seberang kamarku. Tapi urung, lebih baik ikuti aturan mainnya. Sampai jumpa malam minggu! Langkahku menuju makan siang lebih ringan dan aku merasa ion-ion positif dalam tubuhku sedang berreproduksi.

Ateira Niskala

time really is flying after all. kita semakin tua, lebih baik berhenti membuang-buang waktu dengan orang yang belum tentu dapat menghargai kita.
— Ateira Niskala

Begitu terbangun pukul 11 pagi, aku segera duduk di depan laptop. Menyambungkan koneksi internet sambil menyalakan sebatang rokok. Inilah enaknya hidup sendiri. Batinku sambil tetap menyesap rokok. Dua pekan di sini, aku sama sekali belum melihat pemilik kamar-kamar yang selantai denganku. Inikah individualistis apartemen yang selalu kuharapkan? Halaman utama surelku menunjukkan satu pesan baru dan aku belum mau membukanya. Aku lebih tertarik membuka facebook dan melakukan guilty pleasure baruku.

Stalking ke facebook Musa. Bagus! Sejak kapan Musa membuat status-status lembek. Dan, aww wall-wall cheapy-cheesy. Ditambah profile picture sun-sun pipi gitu. “Oh come on Musa! Gak bisa cari yang lebih baik untuk gantiin saya?” Rasanya aku ingin teriak ke telinganya. Ha-ha-ha. Kembali aku membatin. “Sensi banget. Berasa sendirinya udah bener aja.” Ayolah, better stop this bitter joke!

Toh pada akhirnya harus kita putuskan. Untukku, ini ibaratnya memilih antara menyerahkan diri sepenuhnya pada orang lain atau mengembangkan kepercayaan diri bahwa semuanya bisa dijalani. Time really is flying after all. Kita semakin tua, lebih baik berhenti membuang-buang waktu dengan orang yang belum tentu dapat menghargai kita.

Aku menutup halaman facebook bersamaan dengan menutup satu babak drama hidupku. Selamat merajut istana impian, Barbie and Ken… Ups, Musa!

Ateira Niskala


Berapa harga yang harus kau bayar untuk sebuah cita-cita?

Menjadi perempuan yang bekerja untuk kebutuhan dirinya, bisa jadi hal yang membanggakan. Apalagi jika pengetahuan dan daya nalarnya berada setidaknya tepat pada garis rata-rata. Tapi apa yang dicari dari semua itu? Hal tersebut mengusikku karena pembicaraan di messenger tadi siang. Habislah aku dibego-begoi seorang sarjana hukum yang baru beres yudisium dengan peringkat sangat memuaskan tapi sama sekali tidak tahu pasal apa saja yang dikenakan untuk menjerat Ariel.

Segelintir orang memang percaya bahwa pasangan yang mapan merupakan modal awal untuk menikah. Kira-kira, berapa perempuan rela meninggalkan pekerjaannya demi lelaki mapan yang sangat dicintai? Ahhh, jangan bilang aku sendirian yang bodoh di dunia ini. Ya, aku meninggalkan lelaki yang kucintai demi pekerjaanku yang masih dalam impian. Cih, ketika melafalkan kalimat tadi, aku baru sadar bahwa sepertinya aku adalah perempuan terbodoh di dunia! Sudah merasa hebat, apa?

Aku masih bermain dengan pikiran-pikiran sendiri ketika kuhempaskan tubuh ke atas kasur dan membenamkan kepalaku di bawah bantal. Memalukan jika terdengar kamar sebelah. Kemungkinannya dua, aku disebut uber-pathetic atau disangka makhluk beda dunia. Syukur-syukur dia sudah tidur. Beda dengan seorang hippies penghuni kamar seberang lift sana yang baru pulang sekitar pukul 04.00 sambil setengah mabuk dan menggenjreng gitar tak bernada.

“Kebahagiaan seperti apa sebenarnya yang kamu cari?” bisikku lirih. Jika dipikir-pikir, mengapa aku bisa menolak lamaran Musa hanya karena ingin tetap bekerja setelah menikah nanti? Padahal arsitek muda yang tergabung dengan Artsicraft Group dan punya banyak klien kakap pasti mampu membiayai kehidupanku lebih dari cukup. But still, the idea of being jobless in a life after wedding sama sekali tidak terlintas di pikiranku.

Di tengah kegulitaan kamar yang baru kutempati sejak dua pekan lalu, aku membuka laci terbawah lemari dan mengeluarkan sebuah foto. Lekat-lekat, aku memandangi sosok yang dalam kegelapan seperti ini menjadi sedikit mirip Ariel Peterpan. Usiaku dan Musa terpaut lima tahun, dan aku kembali menyadari bahwa, ya, aku memang masih muda walaupun Musa sudah dipenghujung kepala dua. Aku belum mau menikah. Maka perpisahaan kami dan pertemuan Musa dengan Barbie sialan itu tepat.

Membayangkan si Barbie generation itu, aku bisa tertawa miris dan lelah tak habis pikir. Bahwa ada orang yang tidak perlu berbuat banyak untuk mendapatkan kebahagiaan. Mereka mendapatkan jalan pintas bebas hambatan menuju apa yang mereka inginkan, ketika orang lain harus menempuh jalanan terjal memutar.

Ateira Niskala

saya selalu penasaran bagaimana caranya bercinta di atas ranjang saya ini. nyetem gitar aja bisa di situ masa nyetem yang laen ga bisa ahahahaha…
— Kolabton Nawalem

Treng..trennng….tueng… jreeeng… 

“oke sip,” celoteh pede saya setelah menyetem gitar sembari bangkit dari ranjang kain gantung yang memisang. Saya selalu penasaran bagaimana caranya bercinta di atas ranjang saya ini. “nyetem gitar aja bisa di situ masa nyetem yang laen ga bisa ahahahaha…” ujar saya sambil tertawa sendiri berharap ada peri cantik berbikini amerika mengajak bercinta.

Seperti biasa langit-langit kamar apartemen saya sudah cukup terang. Cukup terang oleh lampu neon 16 watt yang bentuknya selalu mengingatkan akan krim kue tart yang mungkin saja lezat. Sebentar lagi pukul 9 malam dan saya harus bergegas menyalurkan hobi sekaligus cari uang bersama Ricardo. Ricardo ini nama gitar listrik warisan kakek saya, diwariskan bersama-sama kamar apartemen ini. Kakek saya meninggal 3 bulan yang lalu, beliau terpeleset di kamar apartemen ini dan kepalanya yang botak di belakang membentur tiang yang tepat berada di tengah kamar ini. Darahnya kadang-kadang masih ada.

Banyak yang bertanya mengapa saya mengamen di malam hari. Sebenarnya saya juga bingung kenapa, hanya saja malam itu lebih nikmat dari pada siang hari yang kisruh, butek, sibuk dan sebagainya. Lagipula kalau siang pengamen lebih banyak jadi banyak saingan. Entah benar atau tidak pemikiran ini. Kalo soal pagi hari saya benar-benar lupa, mungkin sudah 3 tahun terakhir saya tidak jumpa pagi. Ah lagi pula wanita malam tidak kalah segar dengan wanita pagi.

Seperti orang gila saya daritadi berdiri terus di dekat ranjang menggendong gitar senyum-senyum sendiri. Lagi-lagi sendiri. “oke sudah jam 9 saatnya jalan-jalan,” ujar saya semangat. Sreekk… pintu apartemen saya geser, pintu yang berbeda dengan penghuni kamar lainnya yang ditarik untuk dibuka, dan didorong untuk ditutup, atau ditarik dorong untuk menghembuskan angin . Dulu kakek saya pernah menghancurkan pintu aslinya ketika mabuk, dan pihak asuransi pintu menggantinya dengan pintu geseran ini.

“Jreng..jreng…jreng…berangkat..” teriak merdu ritual saya sembari melihat-lihat pintu-pintu kamar apartemen lainnya yang selalu sepi ketika saya ramai. Sepertinya mereka orang-orang mentari yang berekspresi di pagi hari.

Oiya malam ini kamar apartemen saya tidak ditutup lagi, silahkan kalau mau mampir, siapa tahu kakek saya butuh teman berbincang. “ihihihiii…” tawa saya 1 Km dari kamar. Bercanda, saya masih berharap dengan peri bikini amerika itu kok, siapa tau datang.

Kolabton Nawalem



1/4 Next »